Khitbah #2

AsaKajian tanggal 2 Januari 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Siapakah Wanita yang Boleh Dikhitbah?

  • Bukan mahram muabbad, yaitu orang yang selamanya tidak boleh dinikahi (cth: ayah/ibu kandung, saudara kandung); maupun mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang boleh dinikahi hanya setelah bercerai dari suami/istri (cth: ipar).
  • Tidak dalam masa ‘iddah, kecuali untuk yang cerai karena wafatnya suami, tetapi tidak boleh dinikahi sebelum 4 bulan 10 hari.
  • Tidak dalam lamaran orang lain.

Melihat Wanita yang Akan Dikhitbah

Boleh melihat sendiri atau mengirim orang lain untuk melihat wanita yang akan dikhitbah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata, ”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Pergilah untuk melihatnya, karena dengan melihat akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua.’ Lalu ia melihatnya, kemudian menikahinya dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu.” (HR. Ibnu Majah)

Batasan melihat:

  • Jumhur ‘ulama: wajah (mewakili kecantikan) dan kedua telapak tangan (mewakili kelembutan)
  • Hanafiyah: wajah, kedua telapak tangan, dan kedua kakinya sampai mata kaki
  • Hanabilah: wajah, tengkuk, kedua telapak tangan, kedua kaki sampai mata kaki, kepala, dan betis
  • Imam Auza’i: anggota tubuh yang ditumbuhi daging
  • Daud Azh Zhahiri: seluruh tubuh, kecuali kemaluan

Kelima pendapat tersebut didasarkan pada hadits berikut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika salah seorang dari kalian melamar seorang wanita, apabila ia dapat melihat darinya sesuatu yang membuat ia tertarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya” (HR. Abu Dawud)

Pembatalan Khitbah (terkait hadiah yang diserahkan kepada calon istri)

  • Hanafiyah: semua barang yang diserahkan, wajib dikembalikan, kecuali yang sudah habis, semisal buah atau makanan.
  • Malikiyah: jika yang membatalkan pihak laki-laki, tidak perlu dikembalikan. Jika yang membatalkan pihak perempuan, semua pemberian harus dikembalikan, termasuk yang sudah habis, diganti dengan yang sejenis.
  • Syafi’iyah & Hanabilah: tidak wajib mengembalikan.

Allahua’lam bishshawwab..

Sumber Resume : Blog Nisa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s