Bacalah Qur’an Perlahan-Lahan

بسم الله الرحمن الرحيم

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ () قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا () نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا () أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit. Seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (Qs.Al-Muzammil 1-4)

Seperti apa sih bacaan yang { وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا }  itu?

1. Bacalah dengan perlahan, sehingga kita mudah memahami dan mentadaburinya

أي: اقرأه على تمهل، فإنه يكون عونا على فهم القرآن وتدبره.

Bacalah dengan perlahan, sungguh yang demikian membantu untuk lebih dapat memahami dan mendatabburinya.

Coba kita rasakansaat kita membaca dengan pelan-pelan, maka kita akan lebih enak mendengar suara kita sendiri, dan enak juga didengar orang lain. Tapi, kalau kita membacanya terlalu cepat, kita banyak salah-salah, dan orang lain pun tidak bisa menyimak dengan baik. Apalagi jika yang mendengar paham ilmu tajwid, dan maknanya, maka akan terasa sangat tidak enak didengar. Nah, dengan kita membaca perlahan, bacaan lebih terekam dan mengena. Seringlah kita membaca lalu terputus dan kita lupa sampai ayat mana. Ya, karena kita mungkin terlalu cepat, dan kita tidak menghayati ayat per ayat yang dibaca, sekalipun kita tidak paham maknanya. 

 2. Bacalah sebagaimana bacaan Rasul Saw. 

a. Maksudnya membaca dengan perlahansesuai dengan tempat keluar hurufnya dan yang panjang dipanjangkan.

Qatadah rhm:

 سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، عَنْ قِرَاءَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «كَانَ يَمُدُّ مَدًّا»

Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra tentang bacaan Nabi Muhammad saw, beliau ra berkata: Beliau saw membca dengan Yamuddu Maddan. (HR.Bukhari)

b. Beliau memotong bacaannya ayat demi ayat.(HR.Ahmad, Abu Daud dan Thurmudzi)

Ummu Salamah ra:

قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ) يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً ” قَالَ أَبُو دَاوُدَ: «سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ الْقِرَاءَةُ الْقَدِيمَةُ {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} 

Bacaan Rasul saw:

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ)

Abdullah bin Amr bin Ash raRasul saw

 يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada pembaca al-Qur’an; Bacalah ! Dan Naiklah serta bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya secara tartil di dunia, sungguh kedudukan kamu di akhir ayat yang kamu baca. (HR.Abu Daud, Thurmudzi dan Nasai, Shahih)  

Membahas hal ini, dijelaskan tentang, “Apakah Basmallah termasuk dalam surat Al Fatihah atau bukan?”. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, basmallah termasuk ke dalam surat al AFatihah. Hal ini berdasarkan dalil di atas (Ummu Salamah) yang membaca basmallah saat menjelaskan terkait bacaan Rasulullah. Sedangkan menurut Imam Malik, Basmallah bukan termasuk ke dalam Surat Al Fatihah. Hal ini berdasarkan hadits qudsi, bahwa Allah berfirman, “Shalat itu aku bagi 2 yaitu antara Aku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku ialah apa yang dimintanya. Apabila hamba-Ku mengucapkan : Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah, tuhan seru sekalian alam), Aku menjawab : Hamdani ‘Abdi (Hambaku menyanjungku), dan seterusnya. Dalam hadits tersebut tidak dijelaskan bacaan basmallah dalam al-Fatihah yang dibaca hamba-Nya.

 c. Rasul meminta kita membaca dengan tartil, dan mengajarkannya pada orang lain

 Seperti Apakah Tartil Itu? 

1. Membaca sambil menangis

Al-Hasan ra:

أن النبي صلى الله عليه وسلم، مر برجل يقرأ آية ويبكي، فقال: “ألم تسمعوا إلى قول الله عز وجل: {وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً} هذا الترتيل”. 

Sungguh Nabi Muhammad saw melewati dengan seseorang yang membaca satu ayat sedang dia dalam keadaan menangis, beliau saw bersabda: Apakah kalian tidak mendengar perkataan Allah swt “Dan bacalah al-Qur’an secara tartil”, inilah bacaan secara tartil.

Jika di pertengahan ayat lalu terhenti karena menangis, maka hendaklah mengulangi ayat tersebut dari awal.

 2. Bacalah dengan suara yang indah 

وسمع علقمة رجلا يقرأ قراءة حسنة فقال: لقد رتل القرآن

Al-Qomah ra mendengar seseorang membaca al-Qur’an dengan bacaan yang indah, maka beliau ra berkata: Sungguh dia telah membaca al-Qur’an secara tartil.

Barra bin A’zib raRasul saw:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah al-Qur’an ini dengan suara kalian. (HR.Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah)

Said bin Abi Said raRasul saw:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Bukanlah dari golongan kami yang tidak menghiasai al-Qur’an dengan suaranya (HR.Abu Daud)

Abu Hurairah ra:

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَسَمِعَ قِرَاءَةَ رَجُلٍ فَقَالَ: «مَنْ هَذَا؟» فَقِيلَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ قَيْسٍ، فَقَالَ: «لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ»

Rasul saw masuk masjid dan mendengar suara seseorang sedang membaca al-Qur’an, lalu beliau saw bertanya: Siapa orang ini ?, dikatakan: Abdullah bin Qais, beliau saw bersabda: Sungguh telah diberikan kepada orang ini seruling dari serulingnya Nabi Daud as. (HR.Ibnu Majah)

Apa yang disebut melagukan bacaan Al Qur’an?

والتغني الجهر به مع تحسين الصوت والخشوع فيه حتى يحرك القلوب؛ لأن المقصود تحريك القلوب بهذا القرآن حتى تخشع وحتى تطمئن وحتى تستفيد، ومن هذا قصة أبي موسى الأشعري رضي الله عنه لما مر عليه النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقرأ فجعل يستمع له عليه الصلاة والسلام وقال: (لقد أوتي هذا مزماراً من مزامير آل داودفلما جاء أبو موسى أخبره النبي عليه الصلاة والسلام بذلك قال أبو موسى: لو علمت يا رسول الله أنك تستمع إلي لحبرته لك تحبيرا. 

Melagukan yaitu dengan mengeraskan dengan suara yang indah, khusu’ yang dapat menggetarkan hati, karena tujuan dari ‘melagukan’ itu adalah untuk menggugah hati dengan al-Qur’an ini sehingga menumbuhkan kekhusuan, ketenangan dan mengambil faedah, hal serupa ini pernah terjadi pada Abu Musa al-As’ari ra, ketika Rasul saw melewatinya yang sedang membaca al-Qur’an, maka Rasul saw mendengarkan seraya berkata “Sungguh dia telah diberikan seruling dari serulingnya Nabi Daud as’. Ketika diberitahukan kepada Abu Musa ra perkataan Rasul saw itu, beliau mengatakan: Seandainya aku mengetahui kamu mendengarkan bacaanku niscaya aku perindah bacaanku ya Rasul saw. (HR.Bukhari) 

Belajar Akhlaq Rasulullah dan Sahabat terhadap Al Qur’an:


1.  Rasul pernah menyuruh sahabat untuk membacakan AlQur’an untuk beliau. Sahabat malu, karena Al Qur’an diturunkan kepada Rasul. Tapi dari sinilah kita bisa belajar akhlaq rasul :

 

a. Meski Rasul yang beroleh Qur’an, tapi beliau tetap tidak segan untuk mendengarkan dari orang lain. Hendaklah kita demikian, ketika kita melewati sebuah majelis ilmu, meskipun menurut pemahaman kita ilmu yang disampaikan sudah kita paham, adabnya adalah untuk tetap duduk sejenak mendengarkan. 

b. Rasul melatih kepemimpinan sahabatnya. Sehingga ketika nanti ada kesalahan, dapat langsung dibenarkan oleh Rasul. Para sahabat diregenerasi untuk menjadi pengganti-penggantinya. Begitulah semestinya akhlaq di masyarakat; mumpung sesepuh/ulama masih ada, sebaiknya melatih para pemuda untuk menggantikannya, supaya bisa dibenarkan kalau salah. Banyak yang terjadi adalah sesepuh tidak mau digantikan sebelum dia meninggal. Padahal Rasul sudah mencontohkan akhlaq terbaik. 


2. Berusahalah menangis saat membaca Al Qur’an. Untuk mereka yang paham, pasti sangat mudah melakukannya. Tapi, untuk yang belum paham maknanya, bisa jadi lebih sulit. Tapi cobalah untuk menangis, sekalipun tangisannya adalah karena penyesalan mendalam akibat tak bisa juga menangis saat membaca Qur’an. 


3. Dicontohkan oleh Imam Malik, wujud penghormatan beliau terhadap Al Qur’an sangatlah tinggi. Misalnya, beliau selalu wudhu, bersiwak dan memakai wangi-wangian tatkala akan membaca Al Qur’an. Beliau juga sangat mengagungkan Rasulullah (note : bukan menuhankan); yaitu betapa Imam Malik ketika memasuki madinah selalu turun dari kudanya. Alasannya karena beliau tidak ingin lebih tinggi dari makam Rasul. Bahkan beliau melepas alas kakinya supaya bisa bersentuhan dengan tanah yang menyelimuti jasad Rasulullah Saw. 


4. Tidak perlu takut riya’ saat membaca Al Qur’an dengan keras dan dengan suara indah. Sebagaimana hadits di atas Ketika diberitahukan kepada Abu Musa ra perkataan Rasul saw itu, beliau mengatakan: Seandainya aku mengetahui kamu mendengarkan bacaanku niscaya aku perindah bacaanku ya Rasul saw. (HR.Bukhari) . Rasulullah tersenyum ketika Abu Musa mengatakan hal itu. Artinya, rasulullah tidak mengingkari keinginan Abu Musa mengeraskan bacaan dan memperindah bacaan saat ada Rasulullah. Kita luruskan niatnya saja. 

download materi di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s